Kemarin sore, ada seorang ayah yang baru pulang kerja.
Badannya lelah. Kepalanya penuh dengan urusan kantor, tagihan yang belum selesai, dan berbagai hal yang harus dipikirkan untuk besok.
Baru saja duduk di ruang tamu, anaknya datang membawa dua mobil-mobilan.
"Yah, main yuk."
Sang ayah tersenyum.
"Nanti ya, Ayah capek."
Anaknya mengangguk lalu pergi.
Lima menit kemudian datang lagi.
"Yah, sebentar aja."
"Nanti ya."
Lalu anak itu pergi lagi.
Mungkin bagi sang ayah, itu hanya percakapan biasa.
Tapi tanpa disadari, waktu terus berjalan.
Anak-anak tidak selamanya akan datang membawa mainan lalu mengajak kita bermain.
Suatu hari nanti, mereka akan berhenti.
Bukan karena marah.
Bukan karena kecewa.
Tapi karena mereka sudah tumbuh.
Masa Kecil Anak Ternyata Cepat Sekali
Rasanya baru kemarin mereka belajar berjalan.
Baru kemarin mereka tidur sambil memeluk kita.
Baru kemarin mereka menangis saat ditinggal berangkat kerja.
Tahu-tahu sekarang sudah sekolah.
Tahu-tahu sudah punya teman sendiri.
Tahu-tahu sudah mulai sibuk dengan dunianya.
Sebagai orang tua, kita sering berpikir masih punya banyak waktu.
Padahal yang sedang berjalan bukan hanya waktu kita.
Masa kecil anak juga sedang berjalan.
Dan masa itu tidak bisa diulang.
Anak Tidak Sedang Mencari Hiburan
Ketika anak mengajak bermain, sebenarnya mereka tidak sedang mencari hiburan.
Mereka sedang mencari kita.
Mereka ingin ditemani.
Mereka ingin diperhatikan.
Mereka ingin merasakan bahwa keberadaannya penting.
Makanya sering kali mainan yang mahal kalah menarik dibanding kardus bekas yang dimainkan bersama Ayah atau Ibu.
Karena yang dicari bukan mainannya.
Yang dicari adalah kebersamaannya.
Tidak Harus Lama
Kadang kita membayangkan bermain dengan anak harus berjam-jam.
Padahal tidak selalu begitu.
Sepuluh menit bermain mobil-mobilan.
Lima belas menit membaca buku cerita.
Dua puluh menit bersepeda keliling kompleks.
Bagi orang dewasa mungkin terasa biasa.
Tapi bagi anak, itu bisa menjadi bagian dari kenangan masa kecil yang mereka ingat sampai besar.
Hal-hal sederhana justru sering meninggalkan kesan paling dalam.
Demi Anak Istri, Jangan Hanya Sibuk Mencari Nafkah
Mencari nafkah memang penting.
Semua ayah dan ibu pasti ingin memberikan kehidupan yang lebih baik untuk keluarganya.
Tidak ada yang salah dengan bekerja keras.
Tapi sesekali, cobalah berhenti sejenak.
Lihat anak yang sedang menunggu kita pulang.
Lihat mata mereka yang berbinar ketika kita benar-benar hadir.
Karena ada satu hal yang tidak bisa dibeli dengan uang sebanyak apa pun.
Yaitu waktu.
Uang yang hilang masih bisa dicari lagi.
Kesempatan yang lewat kadang masih bisa datang kembali.
Tapi masa kecil anak tidak pernah menunggu siapa pun.
Ia akan terus berjalan.
Pelan-pelan.
Sampai suatu hari nanti, tanpa kita sadari, anak yang dulu selalu menarik tangan kita sambil berkata, "Ayah, main yuk..." sudah tumbuh besar dan tidak mengajak bermain lagi.
Dan saat hari itu datang, kita mungkin akan rindu pada ajakan sederhana yang dulu sering kita tunda.
.png)
