Nggak Usah Beliin Ayah Apa-Apa…

Ayah jarang meminta apa-apa. Selalu mengalah demi keluarga, sampai kalimat sederhana itu terasa hangat sekaligus menyedihkan.
Ilustrasi hangat keluarga sederhana di rumah saat ayah duduk bersama istri dan anak-anak sambil minum kopi sore hari dengan suasana penuh kasih sayang.

Dulu saya pikir ayah memang tidak pernah ingin apa-apa.

Kalau ditanya mau dibeliin apa, jawabannya selalu sama.

“Nggak usah, buat kalian aja.”

Waktu kecil saya menganggap itu biasa. Sampai akhirnya saya mulai dewasa dan sadar… mungkin ayah memang terbiasa menaruh dirinya paling belakang.

Saya baru sadar, sandal ayah ternyata sudah lama tipis. Dompetnya mulai sobek di bagian pinggir. Bajunya juga itu lagi itu lagi. Tapi anehnya, ayah tidak pernah benar-benar mengeluh.

Sebaliknya, kalau anaknya bilang:

“Yah, sepatuku sudah sempit.”

Besoknya ayah langsung sibuk cari cara.

Kadang saya berpikir, mungkin banyak ayah memang seperti itu. Bahagianya sederhana. Asal rumah aman, anak makan, dan istri tenang, itu sudah cukup.

Padahal mungkin sebenarnya ayah juga capek. Juga ingin diperhatikan.

Makanya sekarang saya paham, kalimat:

“Nggak usah beliin ayah apa-apa.”

kadang bukan karena benar-benar tidak mau.

Tapi karena ayah sudah terlalu terbiasa mengalah.

Dan itu yang diam-diam bikin hati terasa hangat sekaligus sedih.