“Besok Senin lagi…”
Kadang kalimat itu saja sudah cukup membuat kepala terasa penuh.
Bukan karena pekerjaannya terlalu berat.
Bukan karena kita malas mencari nafkah.
Kadang yang membuat hari Senin terasa melelahkan justru karena harus kembali bertemu suasana yang tidak nyaman.
Teman kerja yang suka menyindir.
Lingkungan kantor yang penuh drama.
Orang-orang yang senang menjatuhkan diam-diam.
Dan anehnya, semakin dewasa kita sadar…
Capek fisik ternyata masih bisa hilang setelah tidur. Tapi capek mental karena lingkungan kerja, kadang ikut terbawa sampai rumah.
Mungkin banyak ayah di luar sana pernah merasakan hal yang sama.
Hari Minggu terasa cepat sekali berlalu. Baru sebentar menikmati suasana rumah, tahu-tahu malam datang dan pikiran mulai ramai sendiri.
“Besok ketemu dia lagi…”
Kadang belum masuk kantor saja energi sudah habis duluan.
Tapi pagi tetap datang. Alarm tetap berbunyi. Dan kita tetap berangkat kerja seperti biasa.
Karena ada keluarga yang menunggu kita pulang.
Kadang yang Membuat Lelah Itu Lingkungannya
Kalau dipikir-pikir, banyak pekerjaan sebenarnya masih kuat dijalani.
Lembur masih bisa.
Target masih dikejar.
Kerjaan numpuk masih bisa diselesaikan.
Tapi manusianya…
Nah, itu yang sering menguras tenaga paling besar.
Ada orang yang sedikit-sedikit menyindir.
Ada yang suka membandingkan hidup orang lain.
Ada yang ramah di depan tapi berbeda di belakang.
Awalnya mungkin masih bisa dianggap biasa.
Tapi kalau terjadi setiap hari, lama-lama melelahkan juga.
Pulang kerja jadi tidak benar-benar tenang. Pikiran masih penuh suasana kantor. Bahkan kadang emosi dari tempat kerja ikut terbawa ke rumah.
Padahal rumah seharusnya jadi tempat paling nyaman.
Saya Pernah Berusaha Menyenangkan Semua Orang
Dulu saya tipe orang yang tidak enakan.
Berusaha ramah ke semua orang.
Berusaha ikut bercanda supaya dianggap akrab.
Berusaha menjaga perasaan semua orang.
Tapi semakin lama saya sadar…
Capek sekali hidup seperti itu.
Karena tidak semua orang memang bisa dibuat senang.
Mau kita sebaik apa pun, tetap saja ada yang tidak suka. Tetap ada yang mencari celah untuk mengomentari kita.
Dan semakin dewasa, saya mulai mengerti:
Kita tidak harus disukai semua orang.
Solusi Pertama: Jangan Terlalu Membawa Kantor ke Dalam Hati
Ini mungkin terdengar sederhana, tapi jujur ini yang paling sulit.
Karena kadang ucapan orang memang menyakitkan. Kadang sikap mereka memang membuat emosi.
Tapi saya mulai belajar membedakan:
Mana yang memang penting dipikirkan, dan mana yang hanya menghabiskan energi.
Dulu sedikit sindiran bisa kepikiran seharian. Sekarang saya mulai belajar berkata dalam hati:
“Sudahlah… tidak semua harus dimasukkan ke kepala.”
Karena kalau semua dipikirkan, kita sendiri yang lelah.
Kadang orang toxic memang ingin melihat kita terpancing emosi. Dan saat kita terlalu larut, mereka justru menang.
Makanya sekarang saya mencoba lebih tenang.
Bukan berarti tidak sakit hati. Tapi belajar agar tidak semua hal menguasai pikiran kita.
Solusi Kedua: Batasi Kedekatan dengan Orang yang Menguras Energi
Semakin dewasa saya sadar…
Tidak semua orang harus menjadi dekat dengan kita.
Ada orang yang cukup sebatas rekan kerja saja.
Dulu saya merasa harus ikut semua obrolan. Harus ikut nongkrong. Harus selalu terlihat akrab.
Sekarang saya mulai memilih.
Kalau obrolannya mulai negatif, saya mundur pelan-pelan. Kalau suasananya penuh gosip, saya lebih memilih diam.
Karena semakin sering kita berada di lingkungan negatif, pikiran kita ikut penuh hal negatif juga.
Bukan sombong. Tapi menjaga diri.
Kadang menjaga jarak itu penting untuk kesehatan pikiran sendiri.
Solusi Ketiga: Fokus Datang untuk Bekerja, Bukan Masuk Drama
Ini yang perlahan membuat hidup saya lebih ringan.
Sekarang saya mencoba mengingat tujuan utama saya datang kerja.
Bukan untuk memenangkan semua perdebatan.
Bukan untuk disukai semua orang.
Bukan untuk ikut drama kantor.
Saya datang untuk bekerja.
Selesaikan tanggung jawab. Cari nafkah. Lalu pulang ke rumah.
Sesederhana itu.
Karena semakin kita ikut terlalu dalam ke drama kantor, semakin habis energi kita.
Dan jujur, banyak drama kantor sebenarnya tidak ada manfaatnya untuk hidup kita.
Solusi Keempat: Jangan Membalas Toxic dengan Toxic
Ini bagian yang paling sulit.
Karena saat diperlakukan tidak enak, rasanya ingin membalas juga.
Tapi saya sadar satu hal…
Lingkungan buruk bisa menular.
Awalnya kita cuma kesal. Lama-lama ikut sinis. Ikut bergosip. Ikut menjatuhkan orang lain.
Tanpa sadar kita berubah menjadi hal yang dulu kita benci.
Makanya sekarang saya berusaha menjaga diri sendiri.
Kalau ada yang suka menyindir, saya tidak harus ikut menyindir balik. Kalau ada yang suka membicarakan orang lain, saya tidak harus ikut nimbrung.
Kadang kemenangan terbesar bukan saat berhasil membalas.
Tapi saat hati kita tetap tidak berubah jadi buruk.
Solusi Kelima: Cari Tempat Pulang yang Menenangkan
Setelah lelah menghadapi dunia luar, seorang ayah sebenarnya cuma butuh satu hal:
Tempat pulang yang tenang.
Dan buat saya, itu rumah.
Kadang sepulang kerja, capek langsung terasa hilang saat anak menyambut di depan pintu.
Dia tidak tahu ayahnya sedang banyak pikiran. Dia cuma tahu ayahnya pulang.
Di situ saya sadar…
Jangan sampai orang-orang di kantor mengambil terlalu banyak ruang di kepala kita sampai rumah kehilangan versi terbaik dari diri kita.
Karena keluarga tidak salah apa-apa.
Mereka tidak pantas menerima sisa emosi dari tempat kerja.
Solusi Keenam: Jangan Pendam Semua Sendiri
Banyak ayah terbiasa diam.
Termasuk saya.
Kadang merasa harus kuat terus. Harus bisa menghadapi semuanya sendiri.
Padahal dipendam terus juga tidak baik.
Sekarang saya mulai belajar bercerita seperlunya. Entah ke istri, teman yang benar-benar dipercaya, atau sekadar menulis isi pikiran sendiri.
Karena kadang yang kita butuhkan bukan solusi rumit.
Cuma butuh mengeluarkan isi kepala yang sudah terlalu penuh.
Solusi Ketujuh: Ingat Bahwa Hidup Kita Lebih Besar dari Kantor
Ini yang paling penting.
Kadang karena terlalu lelah dengan lingkungan kerja, kita sampai lupa bahwa hidup kita bukan cuma soal kantor.
Masih ada keluarga.
Masih ada mimpi.
Masih ada hidup di luar pekerjaan.
Jangan sampai suasana kantor merusak seluruh kebahagiaan kita.
Karena orang-orang toxic di tempat kerja mungkin hanya bagian kecil dari hidup kita. Tapi kalau terus dipikirkan, mereka bisa mengambil terlalu banyak ruang dalam kepala.
Dan itu tidak sebanding.
Tidak Semua Hal Harus Dilawan
Semakin dewasa, saya belajar bahwa ketenangan itu mahal.
Tidak semua sindiran harus dibalas.
Tidak semua omongan harus dijelaskan.
Tidak semua orang harus dibuat mengerti.
Kadang diam justru menyelamatkan banyak energi.
Bukan berarti kalah.
Tapi karena kita sadar ada hal yang lebih penting untuk dijaga.
Pikiran kita.
Kesehatan hati kita.
Dan keluarga yang menunggu kita pulang.
Kalau Besok Hari Senin Lagi…
Kalau besok hari Senin lagi…
Mungkin sebagian dari kita masih akan bangun dengan perasaan berat.
Masih harus bertemu orang-orang yang melelahkan.
Masih harus masuk ke suasana yang tidak nyaman.
Tapi semoga kita tetap ingat satu hal:
Jangan sampai lingkungan yang buruk mengubah hati kita menjadi buruk juga.
Tetap jadi orang baik meski keadaan tidak selalu baik.
Tetap bekerja dengan tenang meski sekitar penuh drama.
Tetap pulang dengan hati hangat untuk keluarga di rumah.
Karena pada akhirnya…
Yang benar-benar menunggu kita bukan orang kantor.
Tapi anak dan istri di rumah.
@demi.anak.istri
Kalau mau ikut nemenin perjalanan kecil Demi Anak Istri ☕❤️
kamu juga bisa traktir kopi lewat link di bawah ini.
Dukungan kecil seperti itu bakal jadi tambahan semangat supaya DAI bisa terus bikin cerita hangat, artikel inspiratif, dan konten sederhana yang dekat dengan kehidupan sehari-hari ✨
.png)
