Jujur, setelah menikah saya baru sadar kalau yang bikin capek itu bukan cuma soal cari uang. Kadang yang lebih melelahkan justru omongan orang terdekat sendiri.
Saya pernah ada di fase merasa tidak pernah cukup di mata mertua. Sudah kerja, berusaha jadi suami yang baik, berusaha hadir buat keluarga, tapi tetap saja ada ucapan yang bikin hati turun. Kadang dibandingkan, kadang diremehkan, kadang juga dianggap belum bisa membahagiakan anaknya.
Awalnya saya simpan sendiri semuanya. Tapi makin dipendam, kepala makin penuh. Sampai akhirnya saya belajar beberapa hal yang cukup membantu saya lebih tenang menghadapi keadaan seperti ini.
1. Jangan terlalu haus pengakuan
Saya pelan-pelan sadar, tidak semua orang akan mengerti perjuangan kita. Bahkan keluarga sendiri pun belum tentu tahu apa yang kita lewati setiap hari. Jadi sekarang saya lebih fokus memperbaiki hidup, bukan sibuk membuktikan diri.
2. Jangan membalas saat emosi
Dulu saya pernah terpancing membela diri. Ujungnya malah makin panjang dan bikin istri ikut tidak nyaman. Sekarang kalau ada ucapan yang menyakitkan, saya lebih memilih diam dulu sampai hati lebih tenang.
3. Tetap hormat, meski hati sedang capek
Ini memang tidak gampang. Tapi saya percaya sikap baik dalam jangka panjang lebih berarti daripada menang argumen sesaat.
4. Cerita ke pasangan, jangan dipendam sendiri
Kadang laki-laki terlalu sering merasa harus kuat sendiri. Padahal saat mulai terbuka ke istri, beban rasanya jauh lebih ringan.
5. Fokus ke keluarga kecil kita
Saya akhirnya sadar, yang paling penting itu suasana rumah sendiri. Anak tetap butuh ayah yang hangat. Istri tetap butuh suami yang tenang saat pulang kerja.
Mungkin hari ini kita belum dianggap hebat oleh mertua. Tapi selama kita terus berusaha jadi suami dan ayah yang baik, pelan-pelan hidup akan menjawab semuanya sendiri.
Kalau kamu juga sedang ada di posisi seperti ini dan butuh tempat cerita atau diskusi santai soal keluarga, rumah tangga, atau kehidupan sebagai suami dan ayah, kamu bisa ngobrol lewat link berikut:
.png)
